Krisis Ekonomi Uni Eropa (Bagian I: Sebab Musabab Internal)

Kontributor: O.N.

Artikel bersambung ini ditulis sehubungan dengan krisis ekonomi di Uni Eropa yang masih berlangsung dan adanya pertanyaan bagus dan berbobot dari peminat kajian eropa sebagai berikut:

1. bima prasetio Says:Mei 7, 2011 pukul 11:27 am

“Bagaimana sih keadaan perekonomian yunani saat masuk ke UNI EROPA? bagaimana dengan GDP and tingkat ratio utang yunani saat masuk ke UE, apakah itu menjadi syarat utama bagi UE? kemudian kalo memang menjadi syarat UE? seberapa baikah perekonomian suatu negara yang ingin mengintegrasikan negaranya di UE?”

2. andreas Says: November 25, 2011 pukul 3:43 pm

”Terkait dengan krisis ekonomi dan krisis utang di negara negara uni eropa saat ini, apa akibat yang paling ekstrim yang mungkin terjadi (selain gagal bayar) esok hari ke depan? lalu, adakah langkah terbaik yang mungkin diambil untuk menuntaskan krisis ini tanpa membebani para negara negara pemberi bail-out? (selain penghematan anggaran dan bail-ou)”

Sebelum menjawab rentetan pertanyaan di atas, perlu kiranya kita bahas terlebih dahulu beberapa poin yang berpotensi sebagai faktor internal penyebab krisis di negara periferi Uni Eropa khususnya. Adapun faktor penyebab tersebut adalah sebagai berikut:

1. Daya saing yang lemah:

Sebelum suatu negara melepas jubah proteksi yang biasa digunakan untuk bertahan dalam masa sulit, selayaknya mereka sudah mengukur daya saing yang dimilikinya. Apakah faktor-faktor daya saing yang diperlukan dimiliki oleh pemangku kepentingan di tingkat nasional? Karena integrasi ekonomi akan membawa suatau ekonomi (Negara) berhadapan dengan kekuatan ekonomi (Negara) lain dalam system yang terintegrasi tersebut. Alhasil, akan selalu ada yang kalah dan menang. Yang tidak mampu bersaing akan tereliminasi melalui hukum rimba mekanisme pasar. Karena konsumen adalah raja dan slogan “aku cinta produk dalam negeri” hilang ditelan hangar bingar dan hegemoni integrasi. Dampak nyata terhadap suatu ekonomi yang memiliki daya saing rendah dan nekat melepas jubah proteksi secara massif adalah tingkat pengangguran tinggi, pertumbuhan ekonomi mandek, rentan terkena resesi panjang dan rentan terjerat hutang karena akumulasi defisit anggaran. Daya saing dapat dilihat dari beberapa indikator ekonomi, diantaranya adalah kinerja ekonomi suatu negara termasuk kinerja ekspor, ketersedian sumber daya termasuk bahan baku, kepemilikan teknologi produksi serta produktifitas. Kesemuanya bermuara kepada tiga faktor yaitu efisiensi, inovasi dan sophistikasi (kecanggihan)

2. Tidak berjalanya fungsi kontrol fiskal yang dikenal sebagai pakta stabilitas dan pertumbuhan Uni Eropa:

Kegagalan dari fungsi kontrol ini disebabkan antara lain oleh beberapa sebab. Diantaranya adalah aturan main yang dikenakan adalah sama untuk semua Negara anggota yang notabene memiliki tingkat kekuatan ekonomi yang berbeda. Negara-negara tidak bisa memberikan respon cepat terhadap krisis karena semua harus didiskusikan dan dikoordinasikan dari pusat (Frankfurt dan Brussel). Banyak negara yang melanggar ketentuan kriteria Mastricht tapi tidak diberikan sangsi. Penetapan Kriteria Mastricht itu sendiri masih bisa diperdepatkan, apakah kriteria yang digunakan tersebut sudah teruji. Misal apakah ada jaminan bahwa negara yang memiliki ratio hutang dengan GDP yang kurang dari 60% akan memiliki pertumbuhan ekonomi tinggi dan tingkat pengangguran yang rendah? Bisa jadi hutang yang banyak melebihi tingkat yang ditentukan tapi disalurkan pada investasi yang pro pertumbuhan dan pro peluang kerja justru akan dapat mencapai apa yang ditargetkan oleh pakta itu sendiri yakni stabilitas harga, pertumbuhan ekonomi yang stabil dan tingkat pengangguran yang rendah. Intinya adalah walaupun harus terpaksa berhutang, penggunaan hutang tersebutlah yang harus dikontrol. Apakah di korup? Apakah sudah digunakan secara efisien? Apakah sudah disalurkan kepada program-program yang pro pertumbuhan dan pro peluang kerja sehingga kemampuan negara debitur membayar kembali hutangnya lebih terjamin? Kurangnya kontrol dan lemahnya pemberian sangsi sudah terjadi sejak tahun 2001 hingga krisis benar-benar membuka mata dunia.

3. Dana kohesi yang dikucurkan UE yang bertujuan untuk mengurangi jurang perbedaan dari segi infrastruktur dan lapangan kerja terbukti tidak efektif mengatasi ketertinggalan daerah periferi :

Hal ini bisa disebabkan oleh dana yang dikucurkan terlalu sedikit atau memang sumber daya dan lokasi daerah tersebut tidak terlalu menggiurkan bagi investor untuk berinvestasi. Sehingga investsi  yang diharapkan mampu memompa pertumbuhan tidak kunjung datang meskipun dana perbaikan infrastruktur sudah digelontorkan.

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s