Deklarasi Perluasan Kerjasama UE-ASEAN

AEMM KE-16 DI NUREMBERG MENGESAHKAN “DECLARATION ON AN EU-ASEAN ENHANCED PARTNERSHIP” DAN MENGELUARKAN “JOINT CO-CHAIRMEN’S STATEMENT”

Sumber: Siaran Pers KJRI Hamburg

Nomor : 59/SBD/PR/III/2007

Pertemuan ASEAN-EU Ministerial Meeting (AEMM) ke-16 yang berlangsung di Nuremberg, Jerman berhasil mengesahkan “Nuremberg Declaration on an EU-ASEAN Enhanced Partnership” yang memuat visi ke depan kerjasama ASEAN-EU serta mengesahkan “Co-Chairmen’s statement”.

Beberapa hal penting dalam deklarasi dimaksud antara lain : peningkatan kerjasama di bidang politik dan keamanan melalui peningkatan dialog dalam kerangka ARF, dan peningkatan kerjasama dalam kerangka organisasi multilateral seperti PBB dan WTO; kerjasama di bidang ekonomi melalui Trans Regional ASEAN-EU Trade Initiative, mendukung dimulainya perundingan ASEAN-EU FTA, kerjasama peningkatan peranan WTO, peningkatan partisipasi swasta; kerjasama di bidang energi dan perubahan iklim yang difokuskan pada upaya pengembangan energi terbarukan, efisiensi energi serta mendorong terciptanya pasar global energi yang lebih transparan dan efektif; dan kerjasama di bidang sosial budaya yang difokuskan kepada peningkatan implementasi Regional EU-ASEAN Dialogue Investment, mendorong pencapaian MDGs, peningkatan kerjasama penyakit menular, penanggulangan bencana alam, dll.

Pertemuan juga telah mengeluarkan “Co-Chairmen’s Statement” yang pada pokoknya merupakan rangkuman Ketua Bersama (Menlu Kamboja dan Menlu Jerman) atas pembahasan mengenai beberapa isu, antara lain : kesepakatan mengenai hubungan ASEAN-EU yang telah mengalami kemajuan berarti, disepakati mulainya proses perundingan ASEAN-EU FTA, peningkatan hubungan antar masyarakat, peningkatan kerjasama politik khususnya dalam kontek ARF dan penjajakan kemungkinan kerjasama dalam bidang “crisis management” yang diusulkan EU berdasarkan pengalaman Aceh Monitoring Mission yang dipandang sebagai keberhasilan kerjasama ASEAN-EU.

Menlu RI, Hassan Wirajuda yang memimpin Delri ke pertemuan dimaksud, di sela-sela AEMM ke-16 dimaksud juga telah melakukan pertemuan bilateral dengan Menlu Belanda, Sekjen EU, Menlu Swdia, Menlu Slovakia, Menteri Negara Italia serta Menteri Negara Austria.

Sebelum menghadiri AEMM di Nuremberg tersebut, Menlu RI di Berlin juga telah mengadakan pertemuan dengan Menteri Troika Uni Eropa, serta memberikan kuliah umum mengenai “Indonesia dan Proses Integrasi di Asia Timur” yang diselenggarakan oleh “The German Council on Foreign Relations” bekerjasama dengan KBRI Berlin. Menlu RI juga berkesempatan untuk mengaadakan tatap muka dengan masyarakat Indonesia di Berlin.

Indonesia-EFTA Bilateral Trade?

Pengesahan Rekomendasi Studi Bersama Mengenai kemungkinan FTA Indonesia-EFTA

Sumber: Ditjen KPI

Davos – Swiss, 27 Januari 2007 Di sela-sela ajang World Economic Forum di Davos, Menteri Perdagangan RI, Mari Elka Pangestu, melaksanakan pertemuan bilateral dengan Menteri-menteri dari empat negara anggota EFTA (Swiss, Norwegia, Liechtenstein dan Iceland). Pertemuan tersebut ditujukan untuk mengesahkan laporan Joint Study Group (JSG) yang merekomendasikan tentang kelayakan membentuk Comprehensive EFTA – Indonesia Trade Agreement (CEITA) yang berdasarkan pada prinsip trade liberalization, trade facilitation dan cooperation serta membahas langkah selanjutnya untuk kemungkinan memulai perundingan CEITA.

Menteri Perdagangan Luar Negeri Swiss sebagai wakil dari pihak EFTA mengatakan: “Negara-negara EFTA menyambut baik rekomendasi JSG yang yakin bahwa CEITA akan berpotensi untuk meningkatkan perdagangan dan pertumbuhan ekonomi kedua pihak. Untuk itu EFTA States berharap bahwa kedua pihak siap untuk melaksanakan negosiasi CEITA dalam waktu dekat.”

Menteri Perdagangan Mari Pangestu juga menyampaikan bahwa “Indonesia menyambut baik hasil rekomendasi JSG tersebut namun menyatakan belum bisa memberikan komitmen untuk memulai negosiasi saat ini, karena masih perlu mensosialisasikan studi kelayakan tersebut kepada para pemangku kepentingan, diantaranya instansi sektoral, akademisi, dan dunia usaha agar mendapatkan dukungan, seperti yang dilakukan dengan Jepang ketika memulai perundingan Economic Partnership Agreement(EPA).”

Selain membahas hasil studi bersama, Menteri Perdagangan juga mengusulkan kerjasama yang lebih konkrit dimana kedua pihak pemerintah menfasilitasi pertemuan kedua dunia usaha dengan intens agar masing-masing dunia dapat saling kenal, dan saling menjajaki potensi bisnis dan peluang bisnis di kedua negara. Hal tersebut dapat dilakukan dengan membentuk suatu wadah atau working group, sebagai contoh Working Group on Trade and Investment. Menteri Perdagangan juga menambahkan, sebagai langkah awal Indonesia akan menggelar forum bisnis Indonesia-EFTA yang akan mengundang pebisnis dari negara-negara EFTA.

Pihak EFTA menyetujui usul pembentukan “Working Group on Trade and Investment” dan sepakat agar kedua pihak merumuskan prinsip dan modalitas kerja dari working group tersebut. Hal tersebut akan dirumuskan oleh pejabat tingkat teknis.

Selain hal tersebut di atas, kedua pihak sepakat untuk melakukan kerjasama dalam bentuk capacity building dan technical cooperation. Indonesia ingin memanfaatkan potensi negara-negara EFTA yang memiliki keunggulan di bidang-bidang tertentu, misalnya:

§ pendidikan atau kursus di University of geneve dan World Trade Institute, Swiss;

§ bidang kesehatan, lingkungan hidup, minyak bumi dan perikanan tradisional di Norwegia;

§ bidang geothermal dan perikanan di Islandia (Iceland)

Informasi lebih lanjut dapat menghubungi:

Direktorat Jenderal Kerjasama Perdagangan Internasional

Direktorat Kerjasama Bilateral II

Jl. M.I. Ridwan Rais No.5 Blok II, Lt.6 Jakarta 10110
Telp.
3858171 Pes. 1142
Fax. 3858206

Tanggapan/ pertanyaan / komentar sebagai masukan dapat dikirimkan kepada:

arifrw@depdag.go.id


yanto_kpi@depdag.go.id