Perjanjian Bilateral Pertama Indonesia dan UE?

Kontributor: O.N.

Dari Kerjasama antar Blok ke Kerjasama Bilateral

Ina FlagEU FlagPerubahan pendekatan UE terhadap negara-negara ASEAN termasuk Indonesia dalam kerjasama bilateral ekonomi dan perdagangan sudah sangat jelas. Dengan mandeknya perjanjian perdagangan bebas (PPB) antara dua blok “EU-ASEAN”, PPB dengan negara anggota ASEAN merupakan prioritas UE. FTA dengan Indonesia, Vietnam, Malaysia, Philipina dan Thailand  akan menjadi prioritas utama UE yang diperkirakan akan rampung antara tahun 2009-2010. Duduknya Swedia sebagai presiden UE saat ini memiliki pengaruh terhadap arah kerjasama perdangan UE. Seperti dikemukakan duta besar Swedia di Vietnam bahwa PPB dengan Vietnam merupakan prioritas tiga besar negaranya. Keputusan UE untuk mengambil langkah kerjasama bilateral ketimbang antar blok diduga erat kaitanya dengan tidak adanya hasil yang ditelorkan pada putaran ke-7 pembicaraan PPN ”EU-ASEAN” di Kuala Lumpur Maret tahun ini. Sedangkan pembicaraan yang disetujui kedua belah pihak sudah dimulai sejak May 2007.

Kalau ditelaah alasan kebuntuan PPB antar blok ini, penyebab utamanya adalah adanya perbedaan konsep pendirian, pengambilan keputusan dan perkembangan kedua blok tersebut. Kalau UE merupakan integrasi tertutup, ASEAN merupakan integrasi terbuka. Dengan kata lain negara anggota mempunyai hak untuk mengadakan perjanjian perdagangan di luar kerangka ASEAN. Perbedaan kedua adalah dari segi pengambilan keputusan. ASEAN mengenal yang namanya konsensus yang tidak jelas sedangkan UE tidak. UE mempunyai hirarki pengambilan keputusan yang lebih jelas dan efektif. Ketiga, dari segi kedaulatan anggota juga berbeda. ASEAN mengenal sebuah Traktat Amity dan Kerjasama. Prinsip dasar dari traktat ini adalah saling menghargai kedaulatan dan urusan dalam negeri semua Negara anggota. Walau UE juga menghargai urusan dalam negeri negara anggota, tapi hanya untuk urusan yang tidak diatur dalam traktat-traktat UE yang sudah diratifikasi. Artinya untuk banyak urusan, kedaulatan sudah dipindahkan ke Brussel, pusat administrasi UE. Untuk urusan perjanjian dagang dengan pihak luar misalnya, UE merupakan satu entitas politik. Menteri perdagangan dan luar egeri negara anggota tidak punya hak misalnya melakukan perjanjian dagang dengan negara non UE. Inilah yang dimaksud dengan kekuatan supranasional yang tidak dimiliki oleh ASEAN. Perbedaan ke empat adalah dari segi fase integrasi. UE memilih langkah yang lebih teratur sesuai dengan fase-fase yang terukur dan revolusioner sedangkan ASEAN menempuh langkah yang bersifat anginan dan tidak mengikuti fase integrasi yang normal. Sebagai contoh, UE sudah melampaui fase pasar tunggal dimana daerah perbatasan (pabean) adalah satu, sedangkan ASEAN melalui fase yang berkutat pada penurunan tarif dan tidak mengindahkan konsep ”single market”. Namun demikian, ASEAN dan UE punya kesamaan visi bahwa dengan kerjasama regional lah perdamaian, keamanan dan pertumbuhan ekonomi kawasan dapat tercapai.

Analisa Kepentingan

Kepentingan UE

Dengan adanya liberalisasi bersaing yang digagas Paman Sam termasuk di kawasan ASEAN. PPB bilateral dengan berbagai bentuknya antara negara ketiga seperti Amerika, Jepang, China dan Korea Selatan dengan masing-masing negara anggota ASEAN, membuat UE yang didesak oleh pelaku usahanya merasa dirugikan kalau tidak secepat mungkin mengadakan PPB dengan ASEAN. Pemilihan PPB antar blok mungkin dianggap paling efisien pada awalnya, sehingga tujuh putaran pembicaraan sudah dilalui. Ibarat kata pepatah satu kali mendayung sepuluh negara terlampaui. Ternyata perkiraan politik UE meleset. Untuk saat ini, perbedaan yang diterangkan sebelumnya menjadikan PPB antar blok ”EU-ASEAN” menjadi tidak efektif ibarat menegakan benang basah. Pentingnya pasar ASEAN bagi produk-produk industri kelas dunia UE adalah alasan utama untuk mencari solusi cepat guna mencapai PPB UE dengan negara-negara ASEAN. Dengan adanya PPB dengan masing-masing negara ASEAN yang bersifat bilateral, UE akan gampang membidik negara berikutnya satu persatu. Hal ini logis, mengingat dampak domino dari liberalisasi bersaing sudah terbukti efektif. Walau hal ini tidak seefisien PPB antar blok, namun keefektifanya sudah jelas. Posisi pelaku usaha UE terutama yang mengekspor produknya ke ASEAN yang saat ini terdikriminasikan di pasar ASEAN akibat liberalisasi bersaing tadi diharapkan akan disetarakan dengan pelaku usaha negara saingan UE seperti China, Jepang, Paman Sam dan Korea Selatan.

Kepentingan Indonesia

Dengan surplus perdagangan yang dinikmati Indonesia terhadap UE sejak krisis keuangan melanda Asia tahun 1997-1998 lalu, Indonesia berkepentingan untuk menambah atau minimal mempertahankan surplus ini. Indonesia juga sangat berkepentingan dalam memberikan akses pasar bagi produk-produk unggulan bangsa secara komparatif. Hambatan-hambatan dagang terutama hambatan non tarif dan teknis perlu di inventarisir dan diperjuangkan solusinya dalam draft perjanjian dimaksud. Untuk investasi, UE merupakan investor peduli lingkungan yang patut dipertimbangkan sebagai alternatif dari investor dari paman sam, Jepang dan China yang kadang merusak kelestarian alam dan tidak memperhatikan masyarakat sekitar. Walau investasi asing belakangan mendapat kritikan dari para aktivis pengusung kemandirian bangsa dan perlindungan lingkungan hidup, Indonesia memang masih memerlukan ”FDI”. Tapi perlu dipertanyakan ”FDI” yang manakah? Yang perlu didukung adalah ”FDI” yang ramah lingkungan, berdampak sosial kemasyarakatan seperti pembukaan lapangan kerja massal terutama bagi angkatan muda dan menyumbang transfer ilmu pengetahuan dan teknologi.

Masukan bagi Indonesia

Dengan perundingan yang baru-baru ini diadakan di Yogyakarta yang membuahkan konsensus untuk penandatanganan persetujuan di bidang perjanjian kerjasama bilateral dengan istilah ”Partnership Cooperation Agreement (PCA)” yang dilaporkan telah selesai draftnya awal tahun 2008 lalu. Hanya pada saat mau ditandatangani, larangan terbang UE terhadap maskapai penerbangan Indonesia merubah niat pemerintah Indonesia untuk menandatangani “PCA”. Walaupun draft “PCA” kemungkinan sudah rampung (biasanya UE sudah menyiapkan draft lengkap sebelum maju ke perundingan). Hal-hal berikut ini patut menjadi perhatian bagi pemerintah Indonesia:

  1. Perlunya ketelitian yang mengedepankan kepentingan Indonesia oleh para pakar yang dilibatkan dalam merundingkan point per point isi perjanjian. UE bukanlah pemain baru dalam menggarap draft kerjasama bilateral. Ini terlihat pada portofolio perjanjian yang sudah dirampungkan UE yang berjumlah 40 perjanjian lebih dengan negara ketiga dengan berbagai istilah yang dipakai. Sementara Indonesia adalah masih pemain baru dalam perjanjian bilateral. Salah satu kasus yang penting dipelajari pakar Indonesia adalah kasus perjanjian UE dengan Meksiko dan baru-baru ini dengan Philipina. Perjanjian ini memberikan keuntungan berlebih bagi UE ketimbang keuntungan berimbang. Hal ini akan terlihat dari defisit perdagangan yang diderita negara kecil pasca ditandatanganinya PPB ntara kedua pihak yang akan menuai kritikan dari masyarakat.
  2. Melibatkan pihak swasta nasional dalam menyerap kepentingan lokal adalah jauh lebih penting ketimbang memberikan kepercayaan penuh kepada wakil pemerintah dan akademisi. Hal inilah yang dipraktekan Jepang dalam menegosiasikan perjanjian dangang bilateral. Transparansi kepada segenap masyarakat dalam hal bernegosiasi dengan  negara sebesar UE yang akan berdampak langsung kepada masyarakat luas nantinya sangat diperlukan dalam masa reformasi saat ini walau tidak akan berpengaruh terhadap hasil PEMILU 2009 ini.
  3. Dari hasil penghitungan RCA Indonesia yang kami lakukan terlihat jelas bahwa Indonesia hanya memiliki daya saing lebih kuat dibanding negara ASEAN lain di sektor-sektor yang sarat bahan mentah alami seperti karet, energi, kelapa sawit, batu bara, biji cokelat, kopi dan teh yang sangat dibutuhkan Uni Eropa. Yang agak rawan dan berimbang adalah sektor-sektor yang menggunakan faktor tenaga kerja (”Labor Intensive Products”) seperti sepatu, pakaian dan kerajinan tangan. Untuk sektor ini, Indonesia bisa menuntut preferensi akses masuk lebih mengingat potensial keuntungan bagi pelaku usaha lokal di Indonesia. UE sendiri memiliki daya saing yang kuat di hampir semua lini produk kecuali produk-produk yang intensif menggunakan bahan baku alami seperti yang dimiliki Indonesia termasuk energi dan intensif tenaga kerja. UE merupakan juara dunia untuk produk-produk berteknologi tinggi yang sulit ditiru (”difficult imitable research oriented products”).
  4. Karena UE dan Indonesia memiliki faktor produksi dan daya saing komparatif yang berbeda, maka dalam merumuskan PPB dengan UE, Indonesia harus memprioritaskan pembukaan akses pasar selebar-lebarnya untuk produk-produk yang sesuai dengan kekuatan dan daya saing Indonesia. Sebagai catatan, sektor jasa termasuk pelayanan publik masih sangat rawan bagi Indonesia, mengingat liberalisasi di bidang ini punya 2 sisi negatif dan positif. Dimana yang negatifnya lebih dominan disisi penyedia jasa lokal di Indonesia. Lagi-lagi penyedia jasa lokal seperti Ikatan Dokter Indonesia dll harus dilibatkan karena ini menyangkut pangsa pasar mereka yang harus diperhatikan pemerintah Indonesia.
  5. Kalau dilihat dari untung rugi yang diakibatkan dari kerjasama bilateral bagi negara berkembang, yang selalu dirugikan adalah pelaku bisnis di sektor yang diliberalisasi terutama yang masih memiliki daya saing rendah. Lain halnya dengan konsumen, konsumen hampir selalu diuntungkan dengan tersedianya banyak alternatif produk dan jasa di dalam negeri yang berdampak terhadap semakin tajamnya persaingan, peningkatan mutu produk dan jasa yang ditawarkan serta perang harga yang mengarah lepada turunya harga agregat.

Referensi:

Kirim email ke: kajianeropa@gmail.com


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s