Krisis Ekonomi Uni Eropa (Bagian II: Sebab Musabab Eksternal)

Kontributor: O.N.

Melanjutkan pembahasan tentang krisis ekonomi Uni Eropa, sekarang kita kupas sedikit tentang sebab musabab eksternal yang berpotensi memperburuk krisis di internal Uni Eropa. Adapun factor-faktor eksternal tersebut adalah sebagai berikut:

1. Krisis Ekonomi Paman Sam

Perlu digaris bawahi bahwa krisis eksternal di negara paman sam sulit dicari korelasinya dengan krisis di Uni Eropa. Karena krisis hutang di paman sam dan di Uni Eropa sebetulnya krisis yang sudah terindikasi sejak lama yang sering disebut para ekonom sebagai ekonomi balon (bubble economy) yang sewaktu-waktu bisa meledak. Namun karena paman sam merupakan pasar terbesar bagi produk ekspor Uni Eropa dengan nilai ekspor tahun 2008 mencapai 368 milyar Dollar, maka kemungkinan itu memang ada, tapi hanya bersifat sementara. Pada tahun 2009, nilai ekspor Uni Eropa anjlok 22%,  tetapi kembali naik 13 % di tahun 2010. Data awal tahun 2011 menunjukan ekspor sudah kembali normal. Untuk tahun 2009, Yunani sendiri hanya mengekspor 1 milyar Dollar saja ke paman sam dan mengalami dampak yang relatif sama. Yang jelas, berkurangnya daya serap pasar paman sam akan melesukan produksi untuk ekspor yang bisa berdampak PHK di negara asal.

2. Pergeseran Sentra Produksi Global (Offshoring and Outsourcing)

Mahalnya ongkos produksi dan minimnya insentif dari Negara di Eropa, memaksa para produsen untuk memindahkan sentra produksinya ke lokasi yang lebih menguntungkan. Pilihan itu jatuh pada Negara berkembang dengan ongkosnya produksi rendah (upah dan energi murah), peraturan yang tidak ribet, pajak rendah serta insentif investasi asing yang menggiurkan. Keputusan ini memiliki konsekwensi terhadap ketersediaan lowongan kerja dalam negeri Uni Eropa sendiri. Hal ini juga terjadi dalam kasus paman sam. Dengan jumlah penduduk terbesar dunia, China yang waktu itu dipimpin Deng Xiao Ping sangat menyadari bahwa jumlah penduduk yang besar saja tidak cukup, mereka butuh modal dan investor asing untuk mentransfer modal dan teknologi. Untung bagi China, buntung bagi Negara asal investor. Terlihat sekarang, Setelah memiliki kedua-duanya yakni modal dan teknologi, China berusaha menjalankan strategi berikutnya, yaitu berinvestasi dengan bijak di semua lini dan sudut dunia guna mempertahankan supermasinya.

3. Kelangkaan Bahan Mentah

Efek berikutnya dari pergeseran sentra produksi tersebut adalah langkanya bahan mentah untuk produksi yang menyebabkan kenaikan harga yang tak tertahankan. Untuk mempertahankan pertumbuhan, China dan India mencari dan menimbun pasokan faktor-faktor produksi termasuk tanah jarang (rare earth), energi (batubara) dan baja. Kita bisa lihat kehadiran perusahaan China dan India di bidang energi, baja dan tambang di Indonesia. Negara Eropa yang tertinggal seperti yunani yang miskin bahan baku, kehilangan tempat kerja dan terlilit hutang pada dasarnya sudah boleh dikatakan pailit (default). Tetapi dipaksakan untuk tidak jatuh pailit. Karena kalau pailit, kewajiban hutangnya bisa saja dihapuskan. Mahalnya harga faktor produksi dan energi tentu berdampak kepada harga pokok produksi dan dengan dengan sendirinya mengurangi daya saing produk di tataran internasional.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s