Peningkatan Hutang Luar Negeri Zona Euro Tak Tertahankan

Kontributor: O.N.

Walaupun kebijakan penghematan dengan jalan mengurangi anggaran program pemerintah sudah dijalankan, namun anehnya hutang luar negeri terus meningkat. Data terakhir menunjukan bahwa rasio hutang luar negeri terhadap GDP di negara Zona Euro sudah mencapai 92% (32% lebih tinggi dari syarat maksimum yang diperbolehkan kriteria Maastricht. Dari 17 negara yang masuk dalam negara anggota Zona Euro, hanya 2 negara yang berhasil menurunkan hutang luar negerinya yaitu Jerman dan Estonia.

Sebagaimana diketahui bahwa tidak kurang dari 5 negara yang terkena parah krisis sudah di bail out guna menghindari kondisi default (gagal bayar). Perlu dicatat bahwa ada 2 kebijakan utama yang diterapkan untuk 5 negara terbut, yaitu pemotongan anggara belanja dan meningkatkan pajak. Namun kebijakan itu tidak mampu meredam krisis yang sudah berlangsung 1,5 tahun. Data terakhir menunjukan bahwa rata-rata tingkat pengangguran di Zona Euro sudah mencapat 12,2%.

Kalau kita telaah lebih dalam tentang dampak dari 2 kebijakan ini memang sangat kontra produktif. Penghematan belanja negara akan berdampak kepada penurunan uang beredar, loyonya konsumsi barang modal, terbatasnya lapangan kerja jangka pendek yang bisa dihasilkan seperti dalam pembangunan infastruktur yang membutuhkan tenaga kerja massif. Hal ini pada akhirnya akan bermuara pada rendahnya pertumbuhan ekonomi. Kebijakan ke 2 yaitu peningkatan pajak ditujukan untuk meningkatkan pendapatan negara agar negara mampu membayar hutang-hutangnya juga memiliki dampak yang kontra produktif terhadapa sektor riil. Yang justru harus dilakukan adalah sebaliknya, yaitu penurunan pajak yang memberikan insentif pajak kepada para pengusaha dan wirausahawan baru untuk lebih bergairah membuka lapangan kerja baru.

Kalau kita melakukan perbandingan dengan kebijakan Paman Sam dalam menanggulangi krisis, kebijakan yang diambil UE sangat bertolak belakang. Kalau kita simak pidato kenegaraan Obama di depan kongres („State of the Union“), diantara kebijakan yang dijanjikan akan dilakukan gedung putih adalah memprioritaskan kepada pembukaan lapangan kerja baru dengan pembangunan infrastruktur baru (seperti ribuan jembatan), menghimbau perusahaan multinasionalnya untuk pulang kampung, peluang yang sama bagi para imigran asing yang ahli di bidangnya, mendanai R & D untuk penelitian masa depan serta insentif pajak bagi para investor. Disamping itu Paman Sam tidak lupa meningkatkan kwalitas jaminan sosial bagi yang membutuhkan serta memperbaiki struktur pengupahan yang lebih adil. Hal ini merupakan strategi pro-poor dan pro growth yang komprehensif. Informasi terakhir dari lembaga Fed Paman Sam menyatakan akan menghentikan penyuntikan dana stimulus ke perekonomian yang setiap bulanya berjumlah 85 Milyar Dollar menimbulkan pertanyaan apakah dana stimulus sudah berhasil memperbaiki perekonomian atau justru sebaliknya tidak efektif? Atau ada kekhawatiran lain dari Fed tentang efek samping yang ditimbulkan penggelontoran stimulus yang ditalangi melalui penjualan surat berharga (MBS) ke lembaga keuangan? Yang jelas informasi penghentian program stimulus tersebut sudah berdampak terhadap pasar, termasuk lesunya indeks harga saham gabungan dan melemahnya Rupiah.

Kritik dan Saran: kajianeropa@gmail.com


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s